Cara Pencegahan dan Gejala Klinis Rabies

Cara Pencegahan dan Gejala Klinis Rabies

Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan menular pada manusia lewat gigitan atau cakaran hewan penderita rabies atau dapat pula lewat luka yang terkena air liur hewan penderita rabies. Walaupun jarang ditemukan, virus rabies ini dapat ditularkan ketika air liur hewan yang terinfeksi mengenai selaput lendir seseorang seperti kelopak mata, mulut atau kontak melalui kulit yang terbuka. Penularan rabies dapat pula terjadi melalui pendedahan pada konjungtiva, selaput lendir mulut, organ genital dan abrasi oleh air liur penderita rabies. Zinke tahun 1804 adalah orang pertama yang mendemonstrasikan virus rabies di dalam air liur melalui transmisi buatan pada anjing. Uji coba pertama telah membuktikan bahwa agen rabies pada orang dan anjing adalah sama, melalui karya Magendie dan Breschet tahun 1813 yang berhasil menginfeksi anjing dengan air liur pasien orang menderita rabies.

Secara patogenesis, setelah virus rabies masuk lewat luka gigitan, selama dua minggu virus tetap tinggal pada tempat masuk dan dekatnya. Kemudian virus akan bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior tanpa menunjukan perubahan-perubahan fungsinya. Masa inkubasi virus ini berkisar antara dua minggu sampai dua tahun. Tatapi pada umumnya 3-8 minggu, tergantung jarak tempuh virus sebalum mencapai otak. Sesampainya virus di otak, virus akan memperbanyak diri dan menyebar luas dalam semua bagian neuron-neuron, terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel sistem limbik, hipotalamus dan batang otak.

Setelah memperbanyak diri dalam neuron-neuron sentral, virus kemudian bergerak ke arah perifer dalam serabut saraf eferen, volunter dan otonom. Dengan demikian, virus ini menyerang hampir tiap organ dan jaringan di dalam tubuh dan berkembang biak dalam jaringan-jaringan seperti kelenjar ludah, ginjal dan sebagainya. Puncaknya virus ini akan mencapai otak yang akhirnya dapat menyebabkan kematian.

Pada saat virus telah memasuki saraf, virus berimigrasi menuju sasaran ke dalam sistem saraf pusat dan akhirnya menyebar ke seluruh sistem saraf pusat dan masuk ke dalam jaringan otak yang kaya akan sel saraf, termasuk otot dan saraf tulang belakang. Perjalanan virus dapat potong kompas sekitar sumsum tulang dan menjalar melalui alat fiber-panjang langsung menuju ke bagian tertentu dari otak. Dengan cara ini, virus dapat secara cepat memperbanyak diri dan menyebar ke seluruh tubuh sebelum hewan mengalami perubahan patologik yang ekstensif di sumsum tulang. Hal ini penting karena mobilitas dari hewan merupakan faktor penting untuk kelanjutan transmisi rabies ke hewan lain.

Secara umum gejala klinis rabies terbagi dalam empat stadium, antara lain :

Stadium Prodromal: Gejala awal berupa demam, sakit kepala, malaise, sakit tulang, kehilangan nafsu makan, mual, rasa nyeri di tenggorokan, batuk dan kelelahanluar biasa selama 1-4 hari. Gejala-gejala ini merupakan gejala yang spesifik dari orang yang terinfeksi virus rabies yang muncul 1-2 bulan setelah gigitan hewan pembawa virus rabies.

Stadium Sensoris: Pada stadium ini, penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka gigitan. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang sensorik.

Stadium Eksitasi: Tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gej ala hiperhidrosis, hipersalivasi, hiperlakrimasi dan pupil dilatasi. Bersamaan dengan stadium eksitasi ini, penyakit mencapai puncaknya yang sangat khas, yaitu adanya macam-macam fobia. Dan yang paling sering diantaranya adalah hidrofobi (takut air). Kontraksi otot-otot faring dan otot otot pernafasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsang sensorik seperti meniupkan udara ke muka penderita atau menjatuhkan sinar ke mata atau dengan menepuk tangan di depan penderita. Pada stadium ini dapat terjadi apnoe, sianosis, konvulsan dan takikardi. Tindak-tanduk penderita tidak rasional, kadang-kadang maniakal disertai dengan saat-saat responsif. Gejala eksitasi ini dapat berlangsung sampai penderita meninggal, tetapi pada saat mendekati kematian, justru lebih sering terjadi otot-otot melemas hingga terjadi paresis (kelemahan anggota gerak) flaksid otot-otot.

Stadium Paralisis: Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadang-kadang ditemukan juga kasus tanpa gejala eksitasi melainkan paresis otot-otot yang bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang memperlihatkan gej ala paresis otot-otot yang bersifat asendens, yang selanjutnya meninggal karena kelumpuhan otot-otot pernafasan. Tanpa perawatan serius, kematian dapat terjadi 4-20 hari setelah gejala-gejala muncul. Inkubasi dari infeksi rabies ini umumnya terjadi dalam waktu 1-2 bulan setelah kejadian, walau rentang waktunya 10 hari sampai satu tahun.

Alternatif Usaha Pencegahan Rabies
Prinsip dasar usaha pencegahan rabies dilakukan baik pada manusia maupun hewan dan ternak berupa pemutusan daur penularan pada inang penyimpan dan perlindungan terhadap penularan dari penderita klinis. Pada banyak kasus rabies ditularkan anjing, pencegahannya hanya cukup dilakukan dengan memotong daur penularan melalui upaya yang terkait dengan keberadaan dan status kesehatan hewan tersebut untuk menjadi bebas.

Di Indonesia, studi tentang peranan hewan liar sebagai penyimpan rabies masih sangat terbatas, sehingga pengendalian selama ini masih terbatas pula pada penanganan anjing atau dalam presentase kecil pada kucing dan kera. Usaha pencegahan dan pemberantasan rabies dilakukan dengan vaksinasi massal pada anjing peliharaan, eliminasi anjing liar, juga sosialisasi bahaya rabies berikut cara pencegahannya kepada masyarakat.

Usaha Pertolongan Pertama Rabies

Menurut Depkes (2000), setiap ada kasus gigitan hewan penular rabies harus ditangani dengan cepat dan sesegera mungkin, untuk mengurangi atau mematikan virus rabies yang masuk pada luka gigitan. Pengobatan luka gigitan meliputi:
Pertolongan pertama: Usaha yang paling efektif ialah mencuci luka gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau ditergent selama 10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 %, betadine, obat merah atau lainnya). Tetapi, walaupun pencucian luka sudah dilakukan, harus dicuci kembali lukanya di puskesmas atau rumah sakit.
Pengobatan luka secara khusus (dengan pengawasan dokter)

Berdasarkan rekomendasi dari WHO pengobatan luka secara khusus sebagai berikut:
  1. Lakukan pencucian seperti di atas
  2. Semprotkan serum anti rabies ke dalam luka dan infiltrasikan serum tersebut di sekitar luka.
  3. Luka jangan segera dijahit, tapi jika perlu luka jahitan lakukanlah infiltrasi dengan serum anti rabies di sekitar luka.
  4. Berikan pencegahan terhadap tetanus bila ada indikasi dan antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder dengan kuman.
Pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau vaksin anti rabies yang disertai serum anti rabies (SAR) harus didasarkan atas tindakan tepat dengan mempertimbangkan beberapa hasil penemuan berikut :

enemuan berikut :
  1. Anamnesis: Kontak/jilatan/gigitan; Kejadian didaerah tertular/terancam/bebas; Didahului tindakan provokatif/tidak; Hewan yang menggigit menunjukkan gej ala rabies; Hewan yang menggigit mati, tapi masih diragukan menderita rabies; Penderita luka gigitan pernah di VAR, kapan?; Hewan yang menggigit pernah di VAR, kapan?
  2. Pemeriksaan fisik: Identifikasi luka gigitan (status lokalis)
  3. Lain-lain: Temuan pada waktu observasi hewan; Hasil pemeriksaan spesimen dari hewan; Petunjuk WHO.

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar